Realitas mahasiswa hari ini tidak bisa ditutup-tutupi. Kampus masih ramai, kelas tetap berjalan, media sosial penuh dengan suara mahasiswa. Tapi jika dilihat lebih dalam, ada yang berubah secara mendasar: kedalaman berpikir mulai memudar. Banyak mahasiswa lebih sibuk membangun citra daripada membangun pemahaman. Isu sosial dijadikan bahan konten, bukan bahan kajian. Diskusi yang dulu hidup dan panas kini sering berganti menjadi obrolan ringan yang cepat selesai tanpa arah.
Fenomena ini bukan berarti mahasiswa tidak peduli. Mereka tetap bersuara, tetap bereaksi, bahkan kadang terlihat lebih vokal dari generasi sebelumnya. Namun suara itu sering kehilangan bobot. Cepat muncul, cepat hilang. Banyak yang berbicara, tapi sedikit yang benar-benar memahami. Nalar kritis yang seharusnya menjadi ciri utama mahasiswa perlahan tergantikan oleh pola pikir instan dan reaktif.
Lalu apa yang membuat mahasiswa menjadi seperti ini?
Kita hidup di zaman yang membentuk manusia serba cepat. Informasi datang tanpa henti, tapi tidak semua diproses dengan baik. Media sosial mendorong mahasiswa untuk selalu tampil, bukan untuk berpikir. Validasi menjadi candu baru—like, share, dan komentar sering lebih penting daripada kebenaran itu sendiri. Ditambah lagi tekanan ekonomi dan tuntutan masa depan membuat banyak mahasiswa memilih jalan aman. Fokus pada karier, menghindari risiko, dan menjauh dari hal-hal yang dianggap tidak “menguntungkan”.
Dalam konteks ini, apa yang ditulis dalam buku Dari Demonstrasi Hingga Seks Bebas terasa relevan. Mahasiswa tidak hanya berubah karena kemauan pribadi, tapi juga karena sistem yang membentuk mereka. Kapitalisme mendorong individualisme, hedonisme menggeser idealisme, dan kebebasan sering dimaknai tanpa tanggung jawab berpikir. Akhirnya, mahasiswa tidak lagi kehilangan kecerdasan, tapi kehilangan arah penggunaan kecerdasannya.
Padahal jika melihat ke belakang, sejarah mahasiswa di Indonesia justru dibangun di atas kegelisahan dan keberanian berpikir. Tahun 1966, mahasiswa menjadi bagian penting dalam perubahan politik besar. Tahun 1998, mahasiswa turun ke jalan dengan risiko nyata, bukan sekadar opini di layar. Mereka tidak hanya bersuara, tapi juga memahami apa yang mereka perjuangkan. Diskusi, kajian, dan konsolidasi menjadi fondasi gerakan, bukan sekadar reaksi spontan.
Yang membedakan bukan hanya situasi zamannya, tapi cara berpikirnya. Mahasiswa dulu tidak punya kemudahan akses seperti sekarang, tapi mereka memiliki kedalaman. Mereka tidak hanya bertanya “apa yang terjadi”, tapi juga “mengapa ini terjadi” dan “apa yang harus dilakukan”.
Di titik ini, pertanyaannya menjadi tajam: apakah mahasiswa hari ini masih mewarisi semangat itu, atau hanya mewarisi statusnya saja?
Jika sejarah gerakan mahasiswa lahir dari nalar kritis, maka kemunduran nalar hari ini adalah ancaman nyata. Bukan karena mahasiswa tidak lagi turun ke jalan, tapi karena bahkan sebelum turun pun, banyak yang belum benar-benar memahami arah perjuangannya.
Realitas ini bukan untuk menyalahkan, tapi untuk menyadarkan. Karena jika mahasiswa kehilangan daya pikirnya, maka ia tidak lagi menjadi penyeimbang kekuasaan, melainkan hanya bagian dari arus besar yang tidak pernah ia kendalikan.
Dan mungkin, masalah terbesar hari ini bukan mahasiswa yang diam—
tapi mahasiswa yang merasa sudah berpikir, padahal belum.
Nabil Praditya.






